Deg-Degan Menyaksikan Ruwat Bumi di Gunung Tidar, Magelang

  • Monday, December 12, 2016
  • By Dewi Rieka
  • 8 Comments

Deg-Degan Menyaksikan Ruwat Bumi di Gunung Tidar,  Magelang. Jumat lalu,  aku menghadiri One Day Trip Festival Tidar 2016 bersama Disporabudpar Kota Semarang. Pesertanya adalah blogger  dan media massa dari berbagai kota serta anggota ASITA atau Asosiasi Travel Agent Indonesia.  

Ruwat Bumi Gunung Tidar Magelang
Tari Caraka Walik di Festival Tidar 2016

Dari Ungaran,  aku naik bus bareng Miya Kamila. 
Perjalanan sekitar satu setengah jam. Sempat bobok syantik dulu di bus. Hehe ngumpulin tenaga.  

Turun di Artos Hotel,  kami naik taksi ke Hotel Safira Magelang,  tempat kami menginap. Haha, gaya banget ya naik taksi. Iya, bukan karena aku dan Miya si Jejak Jelata #congkak. Tapi kami kejar waktu takut telat, uhuk. Sebenarnya sih bisa naik angkot 02 hihi ke arah AKMIL.  

Ruwat Bumi Gunung Tidar Magelang
Peserta Ruwat Bumi dari berbagai kelurahan di Magelang 

Alhamdulillah,  kami tepat waktu dan langsung makan siang di restoran Hotel Safira. Pas banget perutku keroncongan dari tadi.  Cuma ngemil bawang eh cokelat. 


Setelah leyeh-leyeh sejenak,  pukul 13.30 wib kami berangkat naik bus bersama rombongan menuju Gunung Tidar.  Ya,  hari itu dimulai rangkaian perhelatan akbar Festival Tidar 2016. Salah satu acaranya adalah Ruwat Bumi di Gunung Tidar. 

Ruwat Bumi Gunung Tidar Magelang
Grup Angklung Tidar Jaya Magelang memeriahkan suasana

Sudah lama penasaran dengan gunung ini.
Kata tetanggaku yang berasal dari Magelang, gunung ini ramai dikunjungi bila libur akhir pekan. Bisa naik turun tangga untuk berolahraga. Wah, menarik. Naik gunung pakai tangga?

Ruwat Bumi Festival Gunung Tidar Magelang
Naik naik ke puncak gunung Tidar Magelang 

Gunung Tidar unik karena letaknya di tengah kota. Berkat penghijauan,  kini hutannya cukup lebat terdiri dari pohon pinus dan cemara. Jadi teringat Kebun Raya Bogor, hutan di tengah kota.

Di TKP, sudah berkumpul ratusan peserta yang berasal dari berbagai kelurahan di Kota Magelang. Mereka berpakaian tradisional, yang perempuan berkebaya dan lelaki memakai lurik. Setiap kelurahan memakai baju berbeda. Mereka membawa tampah berisi lauk-pauk.

Ruwat Bumi Festival Gunung Tidar Magelang
Makam Syekh Subakir di Gunung Tidar Magelang 

Teman-teman segera beraksi.  Kami pun mulai berjalan beririringan.  Penduduk sekitar Gunung Tidar ramai menonton arak-arakan. Di pintu masuk hutan,  peserta disambut alunan musik angklung.

Tumpeng  raksasa Ruwat Bumi Festival Tidar (Foto Sukma Aji) 

Gunung Tidar adalah sebuah gunung berketinggian 503 mdpl.  Letaknya strategis. Gunung ini juga dijadikan tempat berlatih para siswa AKMIL lho.

Ruwat Bumi Festival Gunung Tidar Magelang
Makan bersama di Gunung Tidar suasananya gayeng 

Gunung Tidar erat kaitannya dengan cerita berbau mistis. Ia disebut paku tanah Jawa. Yang menjadi penyeimbang di Pulau Jawa agar tak terjadi bencana besar. Di puncak Gunung Tidar, ada tugu imut yang dipercaya sebagai paku bumi yang legend itu.

Paku bumi di Gunung Tidar Magelang (Foto Halim Santoso)

Ada legenda bahwa dulu gunung ini angker. Bahkan ada ungkapan mati atau modar jika mendakinya. Namun,  keadaan konon berubah ketika Syekh Subakir dari Turki melawan Kiai Semar, raja jin sakti dan para prajuritnya para makhluk halus.

Ruwat Bumi Festival Gunung Tidar Magelang
Mas mbak duta wisata pun makan bareng 

"Mau ikut naik?" tanya Mas Andy,  pemimpin rombongan kami.
"Iya,  dong." jawabku sok pede,  haha.  Belum tahu arak-arakan

Untuk naik Gunung Tidar, tak usah capek-capek memanjat. Cukup menyusuri ratusan anak tangga. Hehe. Kini,  anak tangganya dibuat permanen lengkap dengan pegangannya yang dicat merah. Menurut Halim si Jejak Bocah Hilang, dulu jalur naik gunung ini hanya jalan setapak berbatu dan pegangan seadanya.

Ruwat Bumi Festival Gunung Tidar Magelang
Penari Caraka Walik Ruwat Bumi Tidar

Sembari menaiki tangga, mata dimanjakan pemandangan pepohonan yang lebat dan segar dipandang. Sesekali kita disapa monyet yang menghuni hutan yang cukup banyak.

Hosh,  hosh..
Ternyata tak semudah yang disangka.
Aku teler haha.  Berkali-kali aku dan Aida, blogger Solo beristirahat. Ngaso dulu. Selfie syantik dulu. Sempat ngobrol dengan seorang nenek yang mengaku menjaga agar monyet tidak mengganggu peserta Ruwat Bumi hari itu.  Wow.

Ruwat Bumi Festival Gunung Tidar Magelang
Blogger  dan Duta Wisata Magelang berpose bareng

Di tengah hutan,  ada musala kecil untuk salat. Serta sebuah bangunan berbentuk benteng kecil. Konon, ini adalah makam Syekh Subakir.  Dulu tertutup rimbunan pepohonan dan semak belukar.

Di dekat makam,  ada petunjuk boleh berziarah tapi tidak boleh melakukan pemujaan dan hal-hal yang syirik.

Kami pun berjalan kembali.
Kali ini ada jalan setapak dan sebuah bangunan panjang. Ternyata,  bangunan ini adalah makam juga.

Ruwat Bumi Festival Gunung Tidar Magelang
Makam Kiai Semar di Gunung Tidar

Bukan makam orang tapi tempat tombak sakti sepanjang 7m yang disebut Kyai Sepanjang ditanam. Tombak ini digunakan Syekh Subakir untuk melawan Kiai Semar.

Kami masih berjuang menyusuri anak tangga.
Sementara anak-anak kecil berlarian lincah. Anjrit! Kami kalah dengan anak kecil!  Saat itulah kami merasa renta,  wkwkwk..

Alhamdulillah,  Allah Maha Penyayang.
Tak lama kemudian akhirnya kami tiba di puncak. Puncak Gunung Tidar berupa tanah lapang yang cukup luas.

Ruwat Bumi Festival Gunung Tidar Magelang
Mbah Rondiyah momong monyet Tidar biar nggak nakal

Sering digunakan Taruna AKMIL untuk prosesi mereka, juga untuk masyarakat umum berolahraga dan piknik. Akk,  sayang nggak bisa memandangi Kota Magelang  dari atas ya. Seperti bukit Gombel di Semarang,  kita bisa menikmati keindahan kota dari ketinggian.

Para peserta Ruwat Bumi sudah berkumpul di bawah tenda besar.  Yang lain,  bertebaran di berbagai sudut. Meriah ey!

Ada tugu yang dibangun pihak AKMIL.
Prosesi Ruwat Bumi telah dimulai. Setelah sambutan pejabat dan doa bersama,  tampil lima penari Tarian Caraka Walik.

Lima penari berpakaian Jawa dengan dupa menyala di atas kepala menarikan tarian lambat dan anggun.  Tujuannya untuk mengusir bala atau kejahatan di kota inini


Oh iya,  satu penarinya lelaki tulen lho,  namun luwes menarikan Caraka Walik. Rada merinding juga melihat tarian ini,  entah mengapa.

Prosesi Ruwat Bumi seharusnya raksasa dua tumpeng raksasa tapi karena medan yang sulit, gagal dibawa ke puncak. Setelah berdoa,  semua peserta makan bersama. Ada nasi tumpeng dan lauk-pauk gudangan, ayam goreng,  telur dan lainnya.  Yummi!

Kami ditawari rombongan sebelah untuk makan. Menggunakan alas daun pisang sebagai piring, kami menikmati kebersamaan ini. Anak-anak berkeliling meminta lauk ayam dan telur pada rombongan.  Hihi. piknik rakyat!

Ruwat Bumi Festival Gunung Tidar Magelang
Pohon beringin tempat petilasan Pangeran Purboyo 

Oh iya,  di puncak Tidar juga ada pohon beringin besar yang konon jadi tempat petilasan seorang Pangeran. Dan jika kita menyusuri jalan setapak di sebelah kiri tugu, ada sebuah makam berbentuk tumpeng. Makam ini dipercaya penduduk Magelang  sebagai makam Kiai Semar.

Oh iya,  Kiai Semar yang dimaksud bukan Semar dalam pewayangan ya,  tapi ada juga yang menganggap begitu. Kiai Semar disini adalah jin raksasa penghuni Gunung Tidar.

Ya,  ternyata Gunung Tidar ini merupakan tempat wisata yang komplit,  bisa untuk berziarah, olahraga dan bersantai. Sekaligus menjadi paru-paru kota. Beruntunglah warga Magelang memilikinya.

Photo courtesy of
Sukma Aji (tumpeng raksasa)















You Might Also Like

8 comments

  1. Kalau tiap hari naik-turun Gunung Tidar niscaya kurus dan kaki berotot hahaha. Tapi nggak ada bosannya saya ke sana berulang kali, menyegarkan pikiran dan bebas polusi meski letaknya di tengah kota. ^^

    ReplyDelete
  2. Olahraga naik Gunung Tidar hahahhaha.
    Asyik bisa kumpul sesama bloger, bawaannya pengen bercanda mulu :-D

    ReplyDelete
  3. Seru acaranya ya. Bener2 nguri2 budaya

    ReplyDelete
  4. Wah, suasana Gunung Tidar sejuka dan adem, ya kayaknya. Terus terang saya belum pernah melihat acara ruwatan secara langsung. Jadi tahu dengan baca tulisan ini

    ReplyDelete
  5. Wah serunya mbak naik gunung Tidar n kumpul2 blogger jg

    ReplyDelete
  6. Aku kok gak ada sih di foto bareng2 itu. #tanyakenapa :D

    ReplyDelete
  7. Wow, baru baca ada kata mistisnya uda ikutan merinding disco. Hihihi. Tapi keren y mbak,jadi ikut bangga dengan budaya yg masih eksis dan lestari ditengah2 madyarakat kita.

    ReplyDelete
  8. Wah iya kelupaan nuliskan cerita mbah rondiyah kemarin. Huhu

    ReplyDelete