Museum Malang Tempo Doeloe, Piknik ke Masa Silam

  • Wednesday, February 01, 2017
  • By Dewi Rieka
  • 9 Comments

Museum Malang Tempo Doeloe 
Sebagai Mama dari dua penggemar museum, Alde dan Nailah maka tak lengkap rasanya kalau main ke sebuah kota tapi tak mampir di museumnya. Mengunjungi museum sebuah kota bisa menyibak misteri ups, kisah dibalik sebuah kota. Jadi mudeng gitu sejarahnya, hehe. 


Museum Malang Tempo Doeloe
Museum Malang Tempo Doeloe Piknik ke Masa Silam
Ketika mencari informasi tentang museum di Kota Malang, kami tertarik dengan satu museum yang unik.  Namanya Museum Malang Tempo Doeloe. Sepertinya beda gitu dengan museum lain. Akhirnya, kami masukkan deh museum ini ke itinerary ala-ala kami.  Tempat yang bikin penasaran untuk dikunjungi.

Namanya ini kali pertama aku,  Lestari dan dua bocah main ke Malang, kami totally blank dengan kota ini. Kami menjelajah hanya berbekal GPS ponsel dan peta wisata Malang saja. Kejadian deh beberapa kali cerita kocak. 

Misalnya, kami sudah semangat menuju alun-alun Malang dengan harapan bisa makan disana. Bayangan kami, alun-alun itu tempatnya para pedagang kaki lima ngetem. Eh, kami terkecoh. 

Tak ada penjual makanan di alun-alun Malang, oh no! Bingung cari tempat makan sekitar situ karena kepagian akhirnya makan di restoran fast food 24 jam,  McDonald haha. Jauh-jauh ke Malang, makannya tetap wae bareng Ronald. 

Peta Kota Malang yang kami dapatkan di Information Center seberang Toko Oen ternyata sangat bermanfaat bagi kami untuk bekal menjelajah Malang. Iyaa, turis ala-ala kayak kami akhirnya masuk ke pusat informasi wisata dan tanya-tanya dengan wajah polos. Hihi,  ngapain malu,  kan memang turis domestik ini butuh info kan?  Daripada nyasar? 

Museum Malang Tempo Doeloe
meja resepsionis dan beli tiket museum
Karena Mbak GPS bilang jarak ke museum hanya enam menit, kami memutuskan jalan kaki untuk pengiritan sekaligus olahraga dan ternyata jauh bo! Jangan-jangan maksud simbak bersuara merdu kadang ngeselin itu enam menit pakai kendaraan ya?  Hihi.

Iyaa,  dalam rangka mencari museum ini, kami berempat jalan kaki dari Alun-Alun Kota Malang ke Tugu Alun-Alun Bunder. Eh,  apa ya,  namanya? Duh, untung kedua bocahku nggak ngeluh dan menikmati jalan kaki di Minggu pagi nan segar ini.

Hihi walaupun berasa juga ya kakiku nyut-nyutan tapi senang karena kami sempat mampir ke pasar burung yang keren. Tak hanya burung biasa yang dijual disana tapi juga hewan seperti kucing, marmut hingga burung hantu,  hiks kasihan! 

Museum Malang Tempo Doeloe
membaca-baca buku tentang Kota Malang
Akhirnya, kami sampai juga lho di alun-alun Taman Bunder yang Instagramable banget dengan hiasan bunga-bunga raksasa dari plastik. Hari Minggu pagi meriah karena car free day.  Pengunjung CFD dan pedagang kali lima tumplek-blek jadi satu. Seru!

Duh, betapa lega setelah berjalan kaki jauh menembus kerumunan CFD, akhirnya kami berhasil menemukan museum ini. Horee! Tapi karena lelah, kami masuk ke restoran Inggil dulu disebelahnya, untuk isi perut. Ternyata, restoran ini masih bersaudara dengan museum yang kami tuju. Interior restorannya pun layaknya museum.  Banyak benda unik dan antik terpajang. Ah, sukaa!

Museum Malang Tempo Doeloe beralamat di Jalan Gajah Mada, Kidul Dalem Kota Malang. Ide awalnya berasal dari Pak Dwi Cahyono tahun 1997.

Pak Dwi Cahyono ingin mengemas sejarah  kota ini menjadi sebuah wisata yang menyenangkan. Gagasan ini mulai terwujud saat Inggil Resto, restoran bernuansa tempo doeloe dibangun.

Resto Inggil letaknya persis bersebelahan dengan Museum Malang Tempo Doeloe di Jalan Gajah Mada juga. Jadi sekali jalan kaki jauuh dapat dua tempat seru,  hihi.  Nah, tahun 2012, gagasan Pak Dwi terwujud. Museum Malang Tempo Doeloe berdiri.

Museum Malang Tempo Doeloe
fosil binatang dan batu bata peninggalan Mataram Kuno
Setelah puas makan dan menjelajahi Resto Inggil, akhirnya kami memutuskan segera main ke Museum Malang Tempo Doeloe ini. Yippiiee!

Ketika masuk ke area museum, rasanya kok biasa saja. Walaupun memang nyeni dengan berbagai dari barang bekas yang didaur ulang seperti ban mobil yang dicat warna-warni. Ada rak buku di sebelah resepsionis yang berisi buku-buku sejarah Kota Malang untuk dibaca.  Menarik minat kefua anakku duduk membaca. Hei,  hei, kita kan mau masuk museum!

Hanya saja, bangunan ala galeri ini tidak terlalu luas. Duh, bangunannya saja kecil begini. Apa yang bisa dinikmati? Pikirku sedikit kecewa.

Di kanan kiri meja resepsionis dipajang beberapa karya seni yang Instagramable. Tiket masuk untuk orang dewasa Rp15.000 dan anak-anak Rp.5000. Cukup terjangkau,  ya. 

Museum Malang Tempo Doeloe
diorama penggalian arca di bawah tanah
Kami berempat ditunjukkan jalan masuk menuju museum. Ternyata, aku salah,  memandang sesuatu dari luarnya saja.  Petualangan tidak biasa pun dimulai hari itu..

Museum Malang Tempo Doeloe, berisi sejarah Kota Malang dari masa ke masa. Di ruangan pertama, ada diorama Kota Malang yang ternyata benar-benar dikelilingi gunung antara lain Gunung Bromo dan Gunung Semeru. Persis Kota Magelang ya,  dikelilingi gunung jadi mirip mangkok, kotanya tepat  di tengah.

Yang menarik,  desain museum ini! Begitu masuk museum, kita seperti terlempar ke masa silam. Pakai mesin waktu kayak novel-novel sains fiction. Atau alat ajaibnya Doraemon.

Tak sekadar masuk ruangan dan melihat berbagai benda yang dipajang. Kita seperti menjelajahi Malang di masa lampau,. Suasananya dapat banget, hehe.

Ada diorama arkeolog yang sedang menggali candi di Malang. Ya, kota ini sudah ada sejak zaman prasejarah lho. 

Museum Malang Tempo Doeloe
sang raja Mataram bersemedi di gua
Diorama ini terletak di bawah tanah. 
Kita bisa mengintip dari atas dengan kaca besar, atau turun ke bawah lewat tangga. Pengap dan agak creepy hehe. Apalagi saat itu kami hanya berempat di ruangan remang-remang, gyaa!

Di ruangan ini juga dipajang beberapa fosil peninggalan Kerajaan Mataram Kuno diantaranya gading dari hewan seperti kerbau, batu bata yang berukir juga pecahan piring dan alat makan penghuni kerajaan hasil penggalian para arkeolog.

Wow, suka terbayang gimana ya,  suasana saat itu? Di tanah yang sama,  ratusan tahun yang lalu. Mereka makan dan beraktivitas seperti kita saat ini.  

Museum Malang Tempo Doeloe
potret kehidupan masyarakat di masa lalu ada kaki menjuntaii!

Kami berempat lalu beranjak ke sebuah lorong ditutupi dedaunan plastik dan dingiin. Ya, ternyata kami memasuki Kota Malang pada masa kerajaan pertama masih berdiri yaitu Kerajaan Kanjuruhan.

Keberadaan kerajaan ini berhasil diketahui dari hasil penelitian arkeolog pada Prasasti Dinoyo yang bertanda tahun 760 M. Prasasti ini berisi kisah dan cerita arca batu hitam yang menggantikan arca kayu Cendana milik Raja Gajayana. 

Museum Malang Tempo Doeloe
kamera kuno pada masa penjajahan Belanda

Di ujung lorong, Kamo disuguhi patung raja yang sedang bersemedi dan kakek yang melayang di udara. Aak,  kageet!  Haha.  Entah siapa kakek melayang itu. Mungkin ada petunjuknya tapi aku keburu kaget,  hihi dan ingin cepat menyingkir dari sana.

"Mama penakut deh, " protes Alde. "Lihat dulu, jangan kabur, "

Hihi. Salahnya,  Mama dikagetin. Kirain orang beneran!  Haha.

Ada juga papan berisi silsilah keluarga Raja Singosari Majapahit (1222-1292) yang luar biasa panjang. Setelah Kerajaan Kanjuruhan dan Kerajaan Mataram Kuno, pemerintahan dikuasai Kerajaan Majapahit yang berjaya pada masanya.

Museum Malang Tempo Doeloe
lambang kota Malang pertama, Malang Nominor Sursum Moveor 1938

Hihi, sumpah aku merindiing. Apalagi, saat itu hanya ada kami berempat pengunjungnya. Aura jaman dulu terasa kental. Kita seperti diseret ke masa silam. Mana tak ada penjaga museum satupun. Kami dilepas begitu saja hehe #lebay.

Untungnya, kami nggak kabur karena ingin menikmati museum ini.  Menemukannya saja penuh perjuangan  je!  Masa ditinggal? Hihi. Hello, ada orang disinii?

Lanjut ya kisahnya.  Akibat letusan Merapi yang dahsyat, pusat Kerajaan Mataram Kuno akhirnya dipindahkan ke Jawa Timur. 

Museum Malang Tempo Doeloe
suasana pendopo kabupaten tahun 1934 ada bupatinya duduk di singgasana 
Ruangan berikut, memajang barang-barang peninggalan Kerajaan Singosari Majapahit (sekitar tahun 1203). Kerajaan Majapahit terkenal dengan raja Amurwabhumi atau Ken Arok dan istrinya yang cantik jelita Ken Dedes. Termashyur banget kan ya kisah cinta mereka berdua. Tak kalah dengan love story Romeo and Juliet.

Di Malang pula, berhasil ditemukan arca berharga berupa sosok Ken Dedes asli yang kini dipamerkan di Museum Nasional Jakarta. 

Museum Malang Tempo Doeloe
suasana penjara belanda, ada rantai dan gelang kakinya hiy
Di ruangan ini terdapat beberapa benda hasil penggalian situs oleh para arkeolog. Diantaranya ada perhiasan dan celengan babi! Wah, orang zaman dulu sudah mengenal pentingnya menabung untuk masa depan.

Di ruangan ini juga dipajang juga replika arca Ken Dedes dan ada patung orang di sebuah rumah-rumahan beratap jerami! Patungnya menatap ke bawah curiga, seolah mengintip kita! Huaa..kageet! Maksudnya apa, coba? Hihihi...apakah itu kau, Ken Arok? Yang sedang mencari Ken Dedes tercinta?

Museum Malang Tempo Doeloe
majalah Djawa Baroe yang terbit pada masa penjajahan Jepang
Total ada 20 masa yang tercatat di Museum ini. Mulai dari zaman prasejarah, hingga sejarah kota Malang yang kita kenal sekarang. Pengunjung seolah sedang menaiki mesin waktu yang mengajak kita mengintip perkembangan Kota Malang hingga kini jadi kota wisata yang ramai.

Pengunjung bisa merasakan suasana Malang ketika  bupati memerintah tahun 1934. Lalu, zaman penjajahan Belanda dan Jepang (1943). Juga masa kongres KNIP di Malang pada tahun 1947. Betapa kaya sejarah Kota Malang ya! 

Sampul majalah zaman Jepang seorang perempuan memetik apel, kita bak dilempar ke masa silam
Dalam beberapa jam saja, kita sudah mengetahui sejarah Kota Malang dengan cara yang menyenangkan. Berbagai benda yang dipajang betul-betul bernilai. Seperti beberapa sampul majalah Djawa Baroe yang diterbitkan pada masa pemerintahan Jepang. Majalahnya modern lho. 

Museum Malang Tempo Doeloe
Bung Karno di Kongres KNIP Malang tahun 1947
So, kalau kalian main ke Malang, jangan lupa mampir di Museum Malang Tempo Doeloe,  kalian bisa belajar sejarah dengan cara asyik dan deg-deg serr, hihihi. Itu sih karena aku penakut. Hahaha.

Museumnya tidak luas, bahkan dari luar nampak kecil bangunannya tapi penataan dan desain keren bikin museum ini menarik dan luas. Butuh waktu cukup lama lho menjelajah museum ini. Kita jadi tambah ilmu pengetahuan baru nih, hehe. Seru kan ya,  kiddos?

Museum cantik ini buka tiap hari pukul 08.00-17.00. Jangan lupa mampir juga ke Inggil Resto di sebelahnya. Nomer telepon Museum Malang Tempo Doeloe (0341) 6802301. Terima kasih sudah membaca ceritaku ya!  Jangan lupa untuk bahagia, hehe.  











You Might Also Like

9 comments

  1. Wah Alde dan Nay suka museum, wisata sejarah, wah kudu ke museum sangiran di sragen, ama museum di kampoeng bali garut ini mah, ayo nay alde ke museum lagi 😀

    ReplyDelete
  2. museumnya asik kak, jalan jalan terus ya kak dewi :)

    ReplyDelete
  3. wah ini sih patut dikunjungi secara aku suka museum banget

    ReplyDelete
  4. Lucu banget. Aku suka desain meja resepsionisnya. *catet* *Kali-kali ke Malang lagi*

    ReplyDelete
  5. jadi kangen malang dan bakso bakar nya hehehe, eh bakso president enak ngak yaaa ???

    ReplyDelete
  6. Diorama itu bikin imajinasi melayang2
    Kapan ya bisa ke sini ...

    ReplyDelete
  7. Mbak Dew bukannya kalau masuk museum selalu ada sensasi mistisnya ya. Hihihi. Apalagi kalau ada benda2 peninggalan zaman dulu. Tapi daya tarik museum di mataku emang itu sih. Ada mistisnya. Hihi.

    ReplyDelete
  8. Malang definetely kota yang udah masuk wishlist traveling saya euy. Tahun 2016 mau ke sana belon kesampaian hiiikkksss....

    ReplyDelete
  9. Membacanya serasa diajak ikutan berjalan didalam museum dan menghayati satu demi satu barang disana, sampe yang serem-seremnya kerasa juga. Hahaha.
    Malang dari dulu memang indah ya :)

    ReplyDelete