Pantai Mawun Nan Perawan di Lombok Tengah

  • Thursday, March 16, 2017
  • By Dewi Rieka
  • 6 Comments

Pantai Mawun Nan Perawan di Lombok Tengah. Kesukaanku jalan-jalan dimulai saat pertama kali ikut trip Muslimah Backpacker beberapa tahun silam. 


Padahal sebelumnya, aku terbilang anak rumahan hihi. Duh, kemana saja lu, Dew? Iya, soalnya dulu aku anak 1000 pulau yang tiap dua tahun sekali mengepak kardus dan ciao, say bye bye pada teman sepermainanku hiks.

Bersama ortu dan kedua adikku, kami menjelajah Sulawesi Selatan karena Ayah bekerja di Kehutanan dan harus pindah tugas. Makassar, Gowa, Bantaeng dan Sinjai adalah kotaku tinggal hingga berusia 12 tahun. Lelah!


Setelah itu, kami pindah ke Jayapura, Palembang, Yogya lalu Bogor. Duh, banyak kan? Jadi, kebanyakan pindah gitu, aku mengalami fase malas kemana-mana. Hehe. Lho jadi melantur. Back to Lombok.

Berempat bersama teman-teman, dari Semarang kami naik kereta api ekonomi menuju Surabaya. Naik pesawat di Bandara Sidoarjo dan kejadian dulu, ketinggalan pesawat karena ketiduran di rumah Mbak Dian Kristiani. Awww!

Perjuangan berbuah manis. Kami dapat tiket lagi dan menuju Lombok. Biar pun kantong kami mendadak kosong, haha. Masa harus balik Semarang lagi, sih?


Subhanallah. Hanya itu yang mampu terucap ketika melihat pemandangan Pantai Mawun di depanku. Akhirnya, satu dreamlistku tercapai hari itu. Menikmati keindahan bak lukisan karya maestro. Seperti pemandangan kartu pos yang kukoleksi. 

"Seperti Mexico ya, lihat pohon dan tandusnya," canda teman menunjuk pepohonan yang tidak begitu banyak di Mawun.

Sontak, kami tertawa.
Kami telah menjelajahi Pantai Sekotong dan Gili Nanggu hari ini, tapi kami tak bisa berhenti takjub. Aku harus mencubit kedua pipiku agar yakin ini bukanlah mimpi. Duh, aku di Lombok! Horee..

 Tak sia-sia perjalanan dengan ELF menyusuri jalan berkelok-kelok dari Kota Mataram menuju Lombok Tengah. Pantai Mawun bisa kami tempuh sekitar satu jam setengah. Jaraknya dari Kota Mataram sekitar 60 km. Iya, kami sudah menjelajah Pulau Lombok dari ujung ke ujung, lumayan penat bokong duduk berjam-jam di dalam bus mini.

Tadi pagi, kami telah menjelajahi Pantai Selong Belanak yang cukup ramai turis yang berselancar. Ya, Pantai Selong Belanak tak kalah indah. Tapi, begitu riuh dengan pengunjung. Dan begitu banyak kegiatan wisatawan di sana. Jarak dari Pantai Selong Belanak ke Pantai Mawun sekitar setengah jam. 

Melewati bukit-bukit berbatu, tandus dan kerontang. Ya, Lombok Tengah sangat gersang. Sepanjang jalan adalah kebun tembakau. Dengan mata pencaharian penduduknya sebagai petani tembakau. 

Jika harga sedang bagus, mereka kaya raya. Bisa naik haji atau membeli mobil atau rumah baru. Beach tour hari ini, dari pantai ke pantai, tak mampu menghilangkan kekaguman kami pada Mawun. 

Ya, agenda kami hari itu menjelajahi 5 pantai yaitu Pantai Selong Belanak, Pantai Mawun, Pantai Kute, dan Pantai  Tanjung Aan. Dan jika waktu memungkinkan, kami ingin ke Pantai Senggigi. Ikon kota Lombok, dan terkenal hingga mancanegara.

Pantai Mawun begitu cantik. Seperti gadis perawan, ia tersembunyi di balik kerudungnya. Tak banyak orang yang tahu Pantai ini. Kalah populer dengan Senggigi atau pantai lainnya di Lombok.  

Pantai ini layaknya gadis perawan. Belum terjamah tangan jejaka tampan. Tak ada warung-warung makanan di pinggir pantai, tak ada penjual souvenir, tak ada gubuk penduduk yang membuka usaha belajar selancar atau perahu berlabuh. 

Tak ada ibu-ibu sedang mengolah ikan seperti di Pantai Selong Belanak. Mungkin karena Selong Belanak tak jauh dari pemukiman penduduk ya. Sedangkan letak Mawun agak terpencil. Kami serasa berada di pantai pribadi yang terpencil. Andaikan, ada Babang Joe Taslim ya buat berjemur bareng, hahaha.

 Pantai Mawun begitu syahdu dan tentram. Ya, serasa pantai ini milik kami pribadi. Sepi, panas terik dengan sedikit pepohonan untuk berteduh. Hanya beberapa turis bergandengan tangan menikmati suasana. Juga berjemur. Pemandangannya begitu menentramkan. Cocok sekali untuk beristirahat setelah sepanjang pagi kami diisi perjalanan menjelajah Lombok. 

Hanya ada beberapa pondok kecil untuk berteduh.  Tak ada yang berkata-kata, semuanya menikmati desau angin sepoi. Eh, jangan pada bobok syantik yaaa haha. 

Hanya duduk terdiam menatap pemandangan pantai yang setengah lingkaran, bentuknya seperti teluk kecil karena diapit dua bukit. Pasirnya begitu putih dan lembut. Langit biru dan air laut yang begitu biru dan jernih seakan menyatu. kemesraan ini janganlah cepat berlaluu. Aish, jadul pisan! Tapi kena di hati.

Tidak seperti Selong Belanak yang ombaknya menarik para peselancar dari berbagai belahan dunia untuk menjajalnya, ombak pantai ini kecil. Airnya tenang. Romantis. Ada bale-bale sederhana untuk duduk-duduk. Ada warung makan kecil. Untunglah, ada toilet umum hingga tak membingungkan pengunjung yang ingin menunaikan hajatnya. 

Ya, betul juga ya kalau pantai ini masih jarang terjamah wisatawan. Fasilitasnya begitu sederhana. Terkesan seadanya. 

"Banyak yang belum tahu keberadaannya Mbak," begitu penjelasan Pak Haji Ismail, supir merangkap pemilik ELF yang menemani kami selama travelling di Lombok.

Kami merasa beruntung sekali bisa menginjakkan kaki disini. Pemandangan ini begitu indah, Ya Rabb.. Mendadak jadi merindukan suamiku di Ungaran. Kedua anakku. Seandainya mereka ada disini bersamaku. Menikmati karya sang maestro, Allah Yang Maha Besar. 

Tak terasa air mataku menitik. Mendadak mellow. Ya, betapa beruntungnya aku bisa hadir saat ini, menikmati persahabatan bersama teman-teman perempuan, menikmati kecantikan alam. Semuanya berkat ijin dari suamiku untuk ber-me time. 

Sekedar meluangkan waktu untuk memanjakan diri dan merengkuh energi baru untuk menulis dan berkarya lagi. Ah, kangen. Hatiku sedikit ngilu. Si kecil Fatih dan Aulia tak menyiakan waktu untuk berlari ke bibir pantai dan bermain pasir. Riang sekali mereka. Tawa mereka terdengar dari kejauhan. 

Temanku Ninik yang hobinya berfoto ria, langsung menghambur ke pantai bersama Ika, bergantian berfoto dengan berbagai gaya di Mexico, hehe.

Kualihkan pandanganku pada teman-teman MB yang nampak ceria duduk berkumpul menikmati suasana santai. Waktu seakan berhenti di Pantai Mawun. 

Andai aku membawa laptop, aku akan menulis banyak puisi yang menggambarkan keindahan sepotong surga di muka bumi ini. Tapi, jika aku menulis, maka aku akan memalingkan wajah dan pikiranku dari keindahan ini. Rugi rasanya. 

 "Ayo sini, Dew! Kita foto bareng!" teriak Mbak Ima. Aku menggeleng. Perasaan mellow masih tebal menyelimutiku. 

Sebenarnya, aku ingin main air dan berlarian di tepi pantai. Berpose dengan selendang cantik bersama Taro. Apa daya rasanya aku akan tumbang. 

Untunglah, aku disuguhi pemandangan menakjubkan Pantai Mawun, menghiburku. Aku menggigil di terik matahari Lombok.

Basah-basahan kemarin mulai terlihat efeknya. Ya, Sehari sebelumnya, kami basah-basahan di air terjun Tiu Kelep. Sekujur tubuh b@asah kuyup sedangkan aku kehabisan baju ganti. Jadilah, seperti tikus tercebur got, aku naik ELF kembali ke penginapan yang jaraknya sekitar satu setengah jam dari Tiu Kelep. 

Cukup lama juga kami berbasah-basah ria. Walhasil, Tenggorokan langsung tidak enak, badan rasanya meriang. Kelelahan dan kehujanan langsung bikin diriku terkapar. Dan rupanya tidak hanya aku, beberapa teman juga merasakan hal yang sama. Mulai tumbang. 

Kelelahan dengan perjalanan panjang dari Semarang. pantai milik pribadi serasa milyuner Hollywood hihihi, 

Pantai Mawun berhasil membuat penulis komedi sepertiku menjadi puitis. Ajaib. Kangen pada anak-anakku yang penggemar pantai. Mereka pasti bahagia sekali bisa ke sini. Main pasir dan berenang.

 "Oke, Suatu hari, Mama akan mengajak kalian menikmati lukisan karya Ilahi ini, ya si ayah dan anak-anak jelekku di rumah," janjiku dalam hati sebelum beranjak, untuk berfoto bareng teman-temanku. Janji untuk mengunjungi Pantai Mawun Nan Perawan di Lombok Tengah.

Sementara matahari mulai terbenam, semburat oranye menambah keelokan Pantai Mawun, Maka nikmat Tuhan kamu yang mana yang kamu dustakan? 

Photo Courtesy of Andrie Potlot.

You Might Also Like

6 comments

  1. Duh amboiii semoga saya juga bisa ajak keluarga beach tour ke Lombok ya aamiin, tfs Mba^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuk yuk mba, Lombok banyak wisatanya terutama pantai, kece bingiit..

      Delete
  2. Dan aku rindu pantai! Lahir dan besar di Lampung yang kaya pantai cantik buat aku merana kalau jauh darinya mbaaa hehehe. Tapi alhamdulillah bisa menikmati foto2 cantik teman-teman..

    ReplyDelete
  3. wah cerita perjalanannya seru, mbak! bikin nostalgia sama lombok

    ReplyDelete
  4. gak perlu ke luar negeri ya mbak..jika indonesia aja memiliki keindahan alam seperti pantai muwun ini...

    ReplyDelete