Batik Kuno dan Kenangan Masa Silam di House of Danarhadi Solo

Batik Kuno dan Kenangan Masa Silam di House of Danarhadi Solo. Sudah lama ingin blusukan di Kota Solo. Tapi belum kesampaian juga. Emak rempong pisan, hihi.

Batik Kuno dan Kenangan masa silam di Danarhadi Solo

Alhamdulillah, Rabu lalu (04/04) aku mewakili Genpi Jateng menghadiri workshop yang diadakan Kemenpar RI. Agendanya, para peserta diajak blusukan di sudut Solo dan diberi tugas membuat paket trip baru yang menarik untuk ditawarkan ke wisatawan.

Ndalem Wuryaningratan Solo

Kelompok Serabi, grupku kebagian blusukan di Kampung Batik Laweyan. Dan pos terakhir di House of Danarhadi. Kami hangout meluruskan kaki yang pegal menyusuri Laweyan tadi. Ah, akhirnya bisa kesana! Asyik! Bahagia itu sederhana ya, haha.


Beralamat di Jalan Slamet Riyadi No.261 Solo. Terletak di salah satu jalan utama Solo. House of Danarhadi memiliki beberapa bangunan yaitu butik batik, restoran Soga, Ndalem Wuryaningratan dan daya tarik utamanya adalah museum batik Danarhadi.

Ndalem Wuryaningratan yang bersejarah

Bangunan di dalam kompleks ini ternyata ditetapkan oleh pemerintah sebagai cagar budaya lho sejak tahun 1997. Ndalem Wuryaningratan dulunya merupakan kediaman Pangeran Harya Wuryaningrat, dibangun tahun 1890 oleh Kanjeng Adipati Sosrodiningrat IV, ayahnya.

Restoran Soga di House of Danarhadi Solo
Keduanya adalah keluarga keraton Kasunanan Solo. Wow, antik sekali ya! Bangunan ini kini dimiliki oleh Haji Santosa Dullah, pemilik batik Danarhadi.

Museum Batik Danarhadi di Solo

Bangunan Ndalem Wuryaningratan ini interiornya merupakan perpaduan Jawa dan Eropa yang lazim pada masa itu. Namun tetap dominan ukiran tradisional Jawa, ya. Megah dan mewah layaknya rumah kediaman bangsawan. Hingga kini, bangunannya terawat dan kerap digunakan untuk pesta pernikahan. Indah sekaliii..

Ruangan pertama museum batik Danarhadi Solo

Ndalem ini terdiri dari beberapa bagian yaitu pendopo, ghandok atau teras, lalu ruangan untuk menerima tamu disebut pringgitan.

Selanjutnya adalah ruangan pribadi penghuni rumah diantaranya Ndalem Agung yang dijadikan ruang makan serta senthong, kamar tidur. Masuk ke dalam bangunan ini sukses bikin aku berkhayal jadi puteri Keraton hihi. Maklum, penulis novel, imajinatif haha.

Batik kuno dari keraton

Sebelum menjelajahi museum batik, kami numpang ngaso di restoran fine dining Soga. Letaknya di tengah, diantara bangunan museum dan Ndalem Wuryaningratan.

Hadiah dari Raja Siam Thailand

Interiornya njawani banget, dengan perabot kuno hingga suasananya terasa nyaman lan tentram. Restoran ini menyajikan masakan internasional dan tradisional Jawa.

Bahan alami untuk mewarnai batik

Lilin malam bahan untuk membatik

Karena saat itu sudah sore, kami disuguhi teh panas serta berbagai kue yang nikmat. Ah, hilang deh capeknya seharian blusukan hihi. Saking posisi uenak, jadi lupa motret camilannya, hihi.

Batik Belanda yang sempat hits 

Setelah tubuh segar kembali, aku pun masuk ke Museum Batik Danarhadi. Letaknya di sebelah Restoran Soga. Sempat balik kanan untuk mengumpulkan anggota grup yang tercecer. Rata-rata sudah pada teler dan ingin balik ke hotel. Hanya aku dan dua teman dari Makassar yang masuk museum.



Selama bertahun-tahun, bangunan milik pangeran ini terbengkalai. Tinggal menunggu waktu karena rusak disana-sini. Tahun 1999, bangunan bersejarah ini kemudian dibeli oleh Bapak Santosa Dullah.


Setelah direnovasi, lalu difungsikan sebagai galeri atau butik dan museum. Pemilik Danarhadi ini memiliki 11 ribu lembar koleksi batik kuno. Dan belum semua dipajang lho di museum. Museum ini diresmikan tahun 2002 oleh Presiden Megawati.



Museum ini terdiri dari 9 ruangan pajang yang bertema batik, pengaruh zaman dan lingkungan. Ditemani seorang pemandu yang ramah, kami mengelilingi museum.

Tak heran kalau temanya adalah batik dan pengaruh zaman dan lingkungan, terinsiprasi buku karangan pemilik Danarhadi. Batik memang menyesuaikan diri, tergantung situasi saat itu. Batik adalah sebuah proses.

Beragam jenis Batik Cina

Di ruangan pertama, tersimpan koleksi batik kuno yang bernilai sejarah tinggi. Ada koleksi batik dari Kesultanan Yogya dan Pura Pakualaman. Keduanya punya corak yang beda, lho walau sama-sama batik. Agar tidak rusak karena kain batik ini menggunakan pewarna alami, pengunjung tidak diperbolehkan memegang kain. Tapi kita bebas memotret asal tidak memggunakan blitz.

Ruangan berikutnya, kita akan melihat berbagai jenis pewarna alami yang kerap digunakan untuk membatik misalnya pemggunaan buah soga atau kulit buah manggis untuk warna merah atau cokelat pada kain batik kuno.


Mata kita dimanjakan dengan berbagai batik cantik. Motifnya sesuai dengan negara yang berpengaruh saat itu. Ada kain batik hadiah Raja Siam Thailand, ada batik pengaruh bangsa pendatang India dan Cina yaitu batik encim. Aku terkagum-kagum dengan batik Belanda, Oosterom yang marak dibuat pada tahun 1840-1940.

Motifnya dipengaruhi kebudayaan Eropa, ada motif bunga, kupu-kupu, binatang hingga bermotif kapal perang misalnya dengan warna cerah seperti biru dan merah muda, namun dikerjakan dengan halus oleh pembatik berdarah Indo Belanda serta penduduk asli. Namun produksi batik ini berhenti ketika Jepang masuk Indonesia.


Ada pula batik Indonesia yang diusulkan Pak Soekarno yaitu motif batik yang menunjukkan persatuan bangsa. Pak Karno memang seniman, ya. Dulu, ruangan produksi batik Danarhadi juga ada lho di belakang gedung ini. Lalu kemudian dipindahkan ke pinggiran kota karena di tengah kota tak boleh ada pabrik.

Sungguh, betah banget berada di museum ini. Pak Burhanuddin dari Makassar tak henti-hentinya berdecak kagum dengan keindahan dan kekayaan budaya museum ini. Coba ada museum kain sutera di Makassar, ya Pak! Tak lama kemudian, kami mengakhiri penjelajahan kami ke masa silam.


Di pintu keluar museum, kami disambut butik dan galeri batik Danarhadi yang saat itu sedang diskon 20%. Oh iya tiket masuk untuk umum Rp35.000 dan pelajar atau mahasiswa Rp15.000. Yuk, berwisata di House of Danarhadi.

Foto Ndalem Wuryaningratan
Milik www.mysukmana.net

Museum Batik Kuno Danarhadi
Jalan Slamet Riyadi No.261 Solo.
Buka setiap hari pukul 09.00-16.30 wib.

You Might Also Like

15 comments

  1. wah sayangnya gak sempet meet up ya kemarin ya mak :(

    ReplyDelete
  2. Cakep cakep ya batik solo. Aku suka. Pengen ke Solo lagi jadinya.

    ReplyDelete
  3. Aaaa belum sempet mampir sini waktu ke Solo. Bagusss yaa ternyata

    -M.
    http://www.inklocita.com/2017/04/beli-jr-pass.html?m=1

    ReplyDelete
  4. Waw...keren. Saya dulu lama di Jogja, tapi belum pernah secara khusus meluangkan waktu jalan-jalan ke Solo.

    ReplyDelete
  5. Keren-keren nih batik, aku sendiri suka dengan batik, jadi pengen bisa secara langsung bikin batik.. hhe

    ReplyDelete
  6. Wah batik danar hadi emang bagus ya mbak dew, sesuai harganya, tapi koleksi batiknya keren memang, aku mah paling kalau ke solo ke PGS ama IBC aja yang harga grosir lumayan awet juga dan bagus, baru tau nih danar hadi punya museumnya juga 😊

    ReplyDelete
  7. wah itu batik nya keren keren amat. i love batik i love indonesia

    ReplyDelete
  8. Apik banget ya mba, liat fotonya aja rasanya aku bayangin jadi putri keraton gtu hihi

    ReplyDelete
  9. Bagus yaa tempatnya, dan sepertinya koleksinya banyak. Sering lewat tapi ngga pernah mampir. Nanti diagendakan ah pas ke Solo

    ReplyDelete
  10. Daku sudah tiga kali ke museum batik danarhadi ini, bagus-baguslah, sesuai dengan harga yang tetep buatku mikir untuk belinya, hahahaha

    ReplyDelete
  11. wah suka lht batik , dulu sih warnay hanay coklat dan hitam ya,a ku dapat batik kuno dr nenekku

    ReplyDelete
  12. kece2 batiknyaaaaa, sayang pas aku ke sana ga boleh moto2 hiks

    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    ReplyDelete
  13. Motifnya bagus-baguuus. Selalu mupeng ma batik, padahal masih punya banyak kain belum dijahitin 🙊

    ReplyDelete
  14. Pengen banget ke rumah-rumah batik dan museum-museum seperti ini. Hiksss.

    ReplyDelete
  15. Yaampun.. Kece banget batik2nyah

    ReplyDelete